Popular Posts

Sunday, February 20, 2011

newest

My Short Story

Hi, this is Mee again. how's life? I am in good mood, I think. So, today I will show you one of my literary works. it's a short story. I wrote it several years ago. this story is about me, of course it's my love story. (Oh my Gosh!! My cheeks are turning red now!) Actually, it's not really what happened to me. I tried to modify it, let's say, it is what I hoped at the time. it is just my imagination, even though the characters represent the real persons in my life. And i wrote it in my mother tongue. So, check it out!!!!!!!!!

-->
MENCARI CINTA DI TIGA KOTA

Aku terdiam sambil menatap laki-laki yang selama ini selalu bersamaku. Ada sedikit kegalauan di hatiku. Hingga kemudian aku mengucapkan suatu hal yang menggetarkan hati laki-laki itu.
“ Maafkan aku, Don. Aku tidak bisa menerima lamaranmu. Aku benar-benar minta maaf.” aku berkata sambil menitikkan air mata. Doni terhenyak dengan perkataanku. Semua ini terasa tidak mungkin baginya. Sudah tiga tahun kami bersama dan tidak pernah ada masalah.
“ Kenapa, Ran? Bukankah selama ini kita saling mencintai?”
“ Aku rasa begitu.” Jawabku sambil menghela nafas panjang.
“ Lalu apa yang membuat kamu menolaknya, Ran?”
“ Maaf, Don. Selama tiga tahun ini aku sangat mencintaimu. Dan aku juga berfikir bahwa nantinya kita akan menikah. Tapi beberapa hari ini, tiba-tiba aku selalu memikirkan seseorang. Seseorang yang dulu sangat aku cintai. Bayangannya selalu mengusikku. Dan entah kenapa, aku merasa ada dorongan yang sangat kuat dari dalam hatiku untuk mencarinya lagi. Aku ingin mendapatkan cinta pertamaku yang dulu tidak bisa aku raih. Aku benar-benar minta maaf, Don. Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini.” aku berusaha menjelaskan apa yang ada di benakku. Aku tahu ini konyol. Tapi itulah yang aku rasakan saat ini.
“ Ini benar-benar tidak masuk akal. Kamu ingin mencari cinta pertamamu dan meninggalkan aku begitu saja? Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan ini padaku, Ran? Aku bahkan tidak pernah membuatmu kecewa! Aku juga selalu menjaga cinta kita!”
“ Aku tahu, Don. Bahkan aku sangat mengerti bahwa kamu selama ini telah menjadi kekasihku yang sangat baik. Karena itulah aku ingin mengakhirinya. Aku tidak ingin membohongimu. Aku tidak mungkin terus bersamamu sementara di dalam hati dan benakku ada bayangan orang lain yang selalu menghantuiku. Aku tidak ingin menyakitimu, Don.”
“ Kamu sudah menyakitiku, Ran. Bagaimana mungkin kamu bilang kau tidak akan menyakitiku! Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan. Kita putus. Aku tidak akan memaksamu. Selamat mencari cinta pertamamu.”
“Aku benar-benar minta maaf.” Air mataku terus mengalir. Aku menatap punggung laki-laki yang telah mengisi hari-hariku. Mungkin laki-laki itu tidak akan sudi mampir lagi di kehidupanku karena ini. Tapi tekadku untuk menemukan cinta pertamaku telah bulat. Aku ingin mengejar apa yang dulu belum sempat aku dapatkan. Cinta pertama yang aku alami waktu duduk di bangku SMA. Arfin Praba. Nama yang dulu selalu kuukir di dalam hatiku.
***
Hari itu matahari belum berani menampakkan batang hidungnya. Aku telah bersiap-siap. Aku akan berangkat menuju kota Surakarta. Aku pernah dengar bahwa Arfin menuntut ilmu di salah satu universitas di kota itu. Sebenarnya ada keraguan di hatiku. Kalaupun benar Arfin ada di sana, apa yang harus aku lakukan? Arfin bahkan tidak tahu siapa aku. Dulu aku sering menghubunginya melalui pesan singkat, namun sampai saat ini pun, laki-laki itu tidak pernah tahu siapa yang selalu memberinya perhatian melalui pesan singkat itu. Apalagi ini sudah empat tahun sejak aku lulus SMA. Ada kemungkinan bahwa Arfin sudah lulus.Aku berusaha meyakinkan lagi hatiku hingga kemudian aku benar-benar yakin untuk ini. Dalam perjalanan menuju Surakarta aku merasa berdebar-debar. Apa yang harus aku katakan pada Arfin? apa aku harus bilang, “Hai aku Ranti yang dulu sering SMS kamu.” aku khawatir Arfin akan memandangku heran lalu meninggalkanku begitu saja. Hahh….entahlah. aku berusaha untuk tidak berfikir apapun. Biarlah semuanya berjalan secara natural.
Tidak terasa aku sudah sampai di depan pintu gerbang universitas di mana Arfin menuntut ilmu. Dengan langkah pasti aku berjalan menuju sekertariat Fakultas Teknik. Dulu Arfin pernah bilang kalau dia ingin jadi arsitek. Jadi pasti ia salah satu mahasiswa di fakultas ini. Aku masuk ke ruangan yang terlihat sedang sibuk lalu menghampiri salah satu staf yang ada di sana.
“ Permisi, Pak. Saya ingin mencari informasi tentang mahasiswa yang bernama Arfin Praba. Apa mahasiswa tersebut memang tercatat sebagai mahasiwa di sini?”
“ Maaf, untuk keperluan apa?”
“ Saya temannya dari Semarang. Dulu dia pernah bilang kalau kuliah di sini. Kebetulan saat ini saya ingin mengunjunginya.”
“ Sebentar saya cek dulu.” Petugas itu berlalu menuju komputernya untuk mencari data tentang Arfin Praba. Aku menunggu dengan gelisah. Akhirnya petugas itu datang lagi menghampiriku.
“Maaf, berdasarkan data di sini mahasiswa yang bernama Arfin Praba sudah lulus dan diwisuda tahun lalu.”
“Oh, jadi dia sudah lulus. Kalau begitu apa bapak tahu di mana alamat asalnya?”
“Ya, tunggu sebentar.” Tidak berapa lama petugas itu memberiku secarik kertas yang bertuliskan alamat Arfin. Aku bergegas menuju terminal bus. Banjarnegara. Kota yang menurutku sangat jauh. Apalagi aku belum pernah sekalipun menginjak kota itu. Ada sedikit keraguan dan juga ketakutan di dalam diriku. Tapi aku harus tetap mencari Arfin walau aku harus pergi ke tempat yang sangat asing bagiku. Malam hampir bertukar tempat dengan sang fajar ketika aku tiba di kota itu. Aku menghentikan perjalananku di sebuah penginapan. Badanku terasa lelah sekali. Tanpa aku sadari mataku langsung mengatup dan begitu ia mulai terbuka dengan agak berat, aku sadar ternyata matahari sudah bertahta di langit. Aku langsung bergegas untuk menuju alamat yang tertera di kertas itu. Dengan susah payah aku berusaha mencari tahu bagaimana aku bisa sampai di tempat itu. Hingga akhirnya kini aku berdiri di depan pintu sebuah rumah yang bertuliskan no.23. Nomor rumah yang tertera di alamat itu. Perlahan aku mencoba mengetuk pintu rumah itu. Kemudian seorang perempuan yang sudah tua mungkin seusia nenekku membukakan pintu untukku.
“Permisi, Nek. Apa ini benar rumah Arfin? Arfin Praba?” tanyaku. Ia mengamatiku sejenak lalu menjawabnya dengan suara yang hampir tidak bisa aku dengar.
“Kamu teman Arfin?” nenek itu balik bertanya. Dengan ragu aku menganggukkan kepalaku. Teman? Bahkan Arfin tidak pernah merasa mengenalku. Nenek itu mempersilahkan aku masuk.
“Dulu dia memang ikut nenek. Sampai akhirnya dia lulus kuliah, dia memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya di Jogja.” Aku setengah kaget mendengarnya. Atau mungkin malah aku benar-benar kaget mendengarnya.
“Jadi maksud nenek dia tidak ada di sini sekarang?” tanyaku dengan mata yang hampir memerah. Aku sudah pergi sejauh ini dan dia tidak ada? Oh Tuhan…kenapa ini begitu sulit?
“Ya, begitulah. Mungkin dia ingin berkumpul dengan keluarganya lagi. Sudah lama ia tinggal terpisah dengan ayah dan ibunya sejak mereka bercerai.”  Setelah berbincang sejenak aku pamit untuk pulang. Aku bimbang. Haruskah aku menyusulnya ke Jogja? Bagaimana jika usahaku sia-sia lagi? Hahhh….baiklah, aku akan melengkapi pencarian ini. Aku langsung menuju Jogja. Sialnya aku lupa meminta alamat Arfin di Jogja tadi. Baik, kini memang pencarianku benar-benar lengkap! Aku berdiri di kota besar tanpa aku tahu ke mana aku harus berjalan. Aku berjalan tanpa arah yang pasti. Aku mencoba menghilangkan kegalauanku dengan mencoba menikmati keindahan dan keramaian di kota Gudeg ini. Lagipula sudah lama aku tidak mengunjungi kota ini. Aku berhenti di tempat penjual minuman. Aku benar-benar haus. Sejak aku memutuskan pencarian ini, aku hampir melupakan perutku. Ketika aku sedang merasakan segarnya minuman itu, tiba-tiba aku melihat sesosok laki-laki yang sangat aku kenal baru keluar dari sebuah toko. Sosok laki-laki yang selama ini aku cari! Arfin!!!  Aku memastikan mataku tidak rabun. Dia benar-benar Arfin! Arfin yang aku cari! Aku hampir berteriak melihatnya. Usahaku tidak sia-sia! Aku baru akan memanggilnya ketika tiba-tiba hatiku menjadi ciut. Aku bingung apa yang akan aku katakan. Tidak mungkin aku bilang, ‘hai, aku cinta kamu!’ itu akan melihatku benar-benar tampak bodoh. Dia pasti akan menatapku dengan tatapan yang aneh. Tapi kemudian aku memantapkan hatiku. Aku ke sini untuk mencarinya. Dia sudah ada di depan mata. Aku tidak mungkin melepasnya lagi.
“Arfin!!” panggilku. Dia berhenti lalu membalikkan badannya. Mencoba mencari tahu dari mana suara yang memanggilnya. Aku tersenyum kepadanya. Lalu aku menghampirinya.
Dia melihatku dengan heran. Mungkin dia mencoba mengorek memorinya apakah ada sketsa gadis di depannya di dalam ingatannya. Aku menarik nafas panjang hingga kemudian aku berusaha menggerakkan bibirku.
“Mungkin, kamu bingung melihatku. Kamu memang tidak pernah mengenalku. Tapi aku sangat mengenalmu. Aku telah mencarimu ke Surakarta, Banjarnegara, hingga sekarang aku berada di sini untuk mencarimu.” Aku berusaha menjelaskan siapa diriku. Dia masih diam dengan tatapan yang masih sama dengan tadi saat dia melihatku pertama kali.
“Aku dulu adalah adik kelasmu. Dulu aku sering sekali mengirimkan sms untukmu. Apa kamu ingat? Dulu kamu sering cerita kalau kamu ingin sekali jadi arsitek.” Aku berkata sambil mengenang kenangan yang dulu pernah aku lalui.
“Maaf, tapi aku benar-benar sulit untuk mengingatnya. Dulu ada banyak sms serupa yang datang padaku. Dan aku tidak tahu siapa mereka. Yah, mungkin kamu salah satunya. Aku hanya mencoba untuk membalas semua pesan yang masuk.” Dia berkata tanpa ada kesan sok playboy. Dia memang bukan laki-laki seperti itu. Dia laki-laki yang sangat baik. Sangat baik karena dia mau membalas semua smsku walaupun mungkin itu tidak penting baginya, tapi karena kebaikannya aku jadi mengartikannya berbeda. Benih-benih cinta tumbuh di hatiku karena aku merasa dia mau merespon segala perhatian yang aku berikan lewat sms-sms itu. Tapi kini aku menyadari bahwa ternyata bukan hanya aku yang mendapatkan respon itu. Tidak terasa air mataku mulai mengalir di pipi. Dengan sigap aku menyekanya.
“Maaf, kamu tidak apa-apa?” tanyanya begitu melihatku menangis.
“Ya. Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit……ahh…tidak apa-apa!” aku menjawabnya sambil berusaha tersenyum. Dia menatapku. Lalu ia melihat jam tangannya.
“Kalau begitu, aku pamit dulu. Hari ini aku sedang mengurus acara lamaranku. Bulan depan aku akan menikah. Jadi, maaf aku tidak bisa mengobrol lama denganmu. Maaf, ya. Senang bertemu denganmu.” Katanya sambil mengangkat tangannya. Berusaha untuk menjabat tanganku. Aku menyambutnya dengan senyum. Kemudian aku menatap punggungnya berjalan menjauhi aku. Sebenarnya hatiku sedih mendengar dia akan menikah. Aku telah mencarinya di tiga kota. Kini aku harus mendengar cinta pertama yang aku cari akan menikah dengan orang lain. Semua ini sia-sia. Semua yang kulakukan tidak berbuah apapun. Aku harus melakukan sesuatu agar semua tidak sia-sia. Aku berlari menyusulnya.
“Tunggu!!” teriakku. Mendengarku dia menghentikan langkahnya. Aku menghampirinya sambil mengatur nafasku.
“Arfin, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu. Sesuatu yang tidak sempat aku katakan empat tahun lalu. Mungkin ini terasa konyol. Tapi aku…sebenarnya aku mencintaimu. Sejak aku masuk SMA dan bertemu denganmu, hingga kemudian aku mencoba untuk mendekatimu tanpa berani mengenalmu secara langsung. Aku hanya berani berbicara denganmu melalui sms. Bahkan ketika kita bertemu di sekolah aku sudah sangat senang walau kamu tidak tahu siapa aku. Sampai sekarang aku mencintaimu. Itulah kenapa aku di sini sekarang.” Aku berkata sambil terisak. Kali ini aku tidak bisa lagi menahan air mataku.
“Tapi aku……” dia terlihat sangat bingung melihat situasi ini. Dengan cepat aku memotong kata-katanya.
“Kamu tidak perlu menjawabnya. Aku tahu kamu tidak akan pernah bisa menerimaku. Aku tidak ada maksud untuk mencegah pernikahanmu atau apapun. Aku hanya ingin melengkapi pencarianku. Aku ingin pencarianku ini sempurna. Walau aku tidak bisa mendapatkan cintamu, paling tidak aku telah berhasil menyatakan perasaanku padamu. Yang terpenting bagiku sekarang adalah kau tahu bagaimana perasaanku. Hanya itu. Terima kasih. Kau boleh melupakan semua yang terjadi hari ini.” Aku melihat dia menarik nafas panjang hingga kemudian ia berkata,
“Dulu ada seseorang yang sangat sering memberiku perhatian. Aku sangat senang dengan perhatian yang dia berikan. Aku merasa dia sangat berbeda dengan pengirim sms yang lain. Sebenarnya aku ingin sekali tahu siapa dia, tapi dia bahkan tidak pernah mau menyebutkan namanya. Dia bilang dia takut aku tidak lagi membalas smsnya setelah aku tahu siapa dia. Aku selalu terhibur dengan apa yang dia katakan di semua pesannya. Sayangnya, entah kenapa tiba-tiba dia tidak pernah lagi mengirimiku sms empat tahun lalu. Kini akhirnya dia berdiri di hadapanku. Kalau saja kejadian hari ini adalah kejadian empat tahun lalu. Tapi semua sudah seperti ini. Aku tidak mencoba untuk membuatmu menyesal karena telah menunda ini selama empat tahun. Tapi….haah….terima kasih. Aku sangat terkesan dengan apa yang kau lakukan. Aku benar-benar minta maaf aku tidak bisa membuat pencarianmu berakhir indah.” Perkataannya telah membuatku merasa sedikit senang. Walaupun akhirnya tidak seindah yang kubayangkan, tapi paling tidak aku tahu apa yang ia rasakan terhadapku empat tahun lalu. Ya, kalau saja ini terjadi empat tahun lalu. Aku melihat ia tersenyum padaku untuk yang terakhir kali.. Aku sangat sadar bahwa cinta pertama tetaplah indah meski tak seindah harapan kita. Bagiku, pencarian ini tetap berakhir indah karena setelah bertahun-tahun, akhirnya aku bisa berbicara pada Arfin secara langsung. Dan aku pun jadi tahu bahwa dia juga sempat memiliki rasa yang sama denganku. Selamat tinggal cinta pertamaku. Sepahit apapun kau akan tetap menjadi indah dalam ingatanku
***


Friday, February 4, 2011

learn better English!!!

Hi, this is Mee. I am here to give you some tips to learn English. In this great chance I will give you several guidelines how to speak English fluently. I got these incredible tips from my lovely teacher, Kristin Dodds
Joe Weis, and AJ Hog. they told me about some rules that you have to remember. Here they are:
  1.  Stop studying English words.
           That's right, do not memorize words.  Native speakers do not learn English by remembering single words.  Native speakers learn phrases. Research by Dr. James Asher proves that learning with phrases is 4 to 5 times faster than studying individual words.  4 to 5 times faster. Also, students who learn phrases have much better grammar.
     2.  Don't Study Grammar
          Put away your grammar books and textbooks.  Grammar rules teach you to think about English, you want to speak automatically-- without thinking!  
     3.  Listen First
          Listening, listening, listening. You must listen to UNDERSTANDABLE English.  You must listen to English EVERY DAY. Don't read textbooks. Listen to English. This is the key to your English success.  Stop reading textbooks.  Start listening every day. **Learn With Your Ears, Not Your Eyes.  In most schools, you learn English with your eyes.  but remember, you can't speak if you do not listen first. even a baby learn to speak by listening first.
     4. Use Only Real English Materials
         If you want to understand native speakers, you must stop learning English from textbooks, tapes and CDs.  To learn real English, you must listen to real English conversations... not to actors reading.  You listen to real native speakers speaking real English.  You must study real conversations. How do you learn real English? It's easy.  Stop using textbooks.  Instead, listen only to real English conversations, movies, TV shows, audio books, articles, stories, and talk radio shows.  Use real English conversations.
 
So?? it's so easy, isn't it? if you want to speak English fluently and automatically, remember the rules. forget about grammar, textbooks, and don't be afraid of making mistakes. well, we'll never know the truth if there is no mistake, right? good luck with your English and see ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!